DINAMIKA
SOSIOLOGIS dan ANTROPOGI DAKWAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu :Mas’udi ,S.Fil.i., M.A.
Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Rif’an
Nim : 1740210054
Kelas : KPI B3
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Mengamati pertumbuhan kehidupan sosial
kemasyarakatan ejatinya setiap pribadi akan menjumpai hal-hal yang berbeda di
luar dari garis linear kehidupan dirinya. Masyarakat akan melihat orang-orang
yang ada di sekitarnya memiliki keunikan individual yang mustahil dipadukan
antara dirinya dengan yang lain. Untuk itulah,
dalam dinamika kehidupan
sosial ini, manusia
perlu memperoleh pencermatan yang
lebih serius sehingga
dinamika yang berkembang di
tengah-tengah mereka dapat
digolongkan sebagai suatu khazanah dalam kehidupan. Pertumbuhan sosial
kemasyarakatan, sosial budaya,
dan sosial keagamaan di tengah-tengah kehidupan masyarakat adalah
sebuah keniscayaan yang
patut disadari oleh
setiap pribadi. Kesadaran
tersebut perlu dibangun berdasar kepada kompleksitas dinamika kehidupan
manusia. Bersandar kepada
kenyataan ini pula, manusia perlu
mengerti dan mengenal secara hakiki eksistensi dirinya.
Sosiologi dan Antropologi merupakan cabang ilmu sosial. Dimana
Ilmu sosial ini
sendiri adalah keseluruhan disiplin yang berhubungan dengan manusia dalam arti
bukan sebagai bagian dari alam belaka, tetapi ilmu ini ada karena membentuk kehidupan
bermasyarakat dan kultur. Seperti yang telah kita
pelajari mengenai ilmu dakwah, dapat kita korelasikan dengan ilmu sosial ini,
karena dalam berdakwah kita perlu menguasai ilmu sosial khususnya dalam
bermasyarakat dan mengenal budaya. Supaya seorang da’i itu
dapat berdakwah secara
efektif, serta dalam berdakwah seorang mad’u dapat menerima apa yang
telah di sampaikan.
Dalam berdakwah, seorang
dai haruslah mengetahui mad’u yang akan menerima pesan dakwah, tentu dalam
berdakwah dai melakukan interaksi agar dakwahnya berjalan efektif
dan diterima oleh mad’u. Banyak para dai yang meninggalkan pendekatan sosologi
antropologi dakwah sehingga terjadi penolakan terhadap mad’u tentang apa yang
disampaikan tidak tercapai. Untuk itulah dia harus memahami sosialisasi dalam
masyrakat setempat dan budaya mereka.
Sebagai pengantar dalam
mata kuliah Sosiologi Antropologi Dakwah kita perlu mengulang kembali defenisi
dari masing-masing pembahasan ini. Apa pengertian dari sosiologi, antropologi,
dan bagaimana hubungannya dengan dakwah.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian
sosiologis
2.
Apa pengertian
Antropologi
3.
Apa pengertian
dakwah
4.
Apa hubungan sosiologis
dengsn dakwah
5.
Apa hubungan
antropologi dengan dakwah
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui pengertian
sosiologis
2.
Mengetahui
pengertian Antropologi
3.
Mengetahui pengertian
dakwah
4.
Mengetahui hubungan
sosiologis dengsn dakwah
5.
Mengetahui hubungan
antropologi dengan dakwah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Sosiologis
Secara etimologis
sosiologi berasal dari bahasa latin, yaitu socius dan logos.
Socius berarti
‘teman’
atau
‘kawan’. Sedangkan logos dalam
bahasa Yunani berarti ‘kata’ atau ‘berbicara’. Jadi sosiologi berarti
membicarakan atau memperbincangkan pergaulan hidup manusia. Pengertian inii
kemudian diperluas menjadi suatu ilmu pengetahuan yang membahas serta
mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat.
Sedangkan secara
terminologis sosiologi didefenisikan oleh banyak ahli sesuai dengan sudut
pandang mereka masing-masing. Emil Durkhein misalnya berpendapat bahwa sosiologi
adalah suatu ilmu yang mempelajari apa yang dinamakan fakta sosial. Sedangkan Weber
mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial
(Sunarto, 1993). Sorokin (dalam Sukanto,2001) mendefenisikan sosiologi sebagai
suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara
gejala-gejala sosial dengan non-sosial. Soermajan dan soemardi (dalam soekanto,
2001) mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan
proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Sedangkan soekato
sendiri (2001) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang kategori, murni,
abstrak, dan mencari pengertian-pengertian umum, rasional dan empiris. Bapak
sosiologi, Aguste Comte (dalam bukunya The Positive phylosophy)
sosiologi
merupakan studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial yang
didalamnya dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis.
Berdasarkan beberapa
defenisi diatas, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal
balik antara bermacam-macam gejala sosial, antara manusia dengan
kelompok-kelompoknya maupun dengan lingkungannya yang termasuk didalam struktur
dan proses sosial dalam masyarakat.
B. Pengertian
Antropologi
Antropologi adalah
paduan dari kata Anthropos berarti manusia, dan logos berarti
ilmu (keduanya asal Yunani). Menurut William A. Haviland (1994;7)
antropologi adalah studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun
generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk
memperoleh pengertian yang lengkap mngenai keanekaragaman manusia. David Hunter
mengatakan bahwa antropologi adalah ilmu yang muncul dari keingintahuan yang
tidak terbatas mengenai ummat manusia. Koentjaraningrat mengatakan bahwa
antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umum nya dengan
mempelajar berbagai warna, bentuk, fisik masyarakat yang dihasilkan.
Dari ketiga pengertian
tersebut, pemakalah menyimpulkan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari
manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku,
tradisi-tradisi dan nilai-nilai) yang dihasilkan, sehingga setiap
manusia satu dengan lainnya berbeda.
Antropologi lebih
memusatkan pada penduduk sebagai masyarakat tunggal, yaitu kesatuan masyarakat
yang tinggal di daerah yang sama. Antropologi hampir identik dengan sosiologi.
Akan tetapi, sosiologi menitikneratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya,
sedangkan antropologi menitikberatkan pada unsure budaya, pola pikir, dan pola
kehidupannya.
C. Pengertian
Dakwah
Dakwah
adalah aktiviti dinamis. Dakwah harus mampu memberikan jawaban terhadap setiap
perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Corak dan bentuk dakwah
dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan segala perubahan dan perkembangan
masyarakat. Banyak di antara perubahan dan perkembangan masyarakat merupakan hal-hal
yang sama sekali baru dan tidak memiliki preseden di masa lalu. Hal yang baru
dimaksud berkenaan dengan pola piker, pola hidup dan perilaku masyarakat. Dakwah
akan selalu bersintuhan dengan kehidudpan masyarakat.
Dalam bahasa Amrulllah Achmad, eksistensi dakwah Islam senantiasa bersentuhan
dan bergelut dengan realitas yang mengitarinya. Apabila dakwah dinamis
terlaksana dengan baik, maka dakwah akan berfungsi sebagai alat dinamisator dan
katalisator atau filter dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan
demikian dapat diasumsikan, bahwa apabila dakwah tidak melakukan perubahan,
maka kemungkinan dakwah tidak relevan lagi dengan dunia yang berubah dengan cepat
dan pesat.
Ahmad Watik
Pratiknya menyatakan bahwa dakwah
harus diformat untuk bisa
menghadapi tantangan zaman.
Ini berarti bahwa dakwah tidak
hanya digunakan untuk merehabilitasi dampak kemungkaran akibat perkembangan
zaman tetapi juga
bisa dijadikan sebagai determinan
dalam mengendalikan perkembangan zaman. Ada lima ciri dan esensi perkembangan
zaman atau globalisasi yang harus diperhatikan
dalam pelaksanaan dakwah.
Pertama, terjadinya proses transfer nilai yang intensif dan ekstensif.
Kedua, terjadinya transfer teknologi yang masif
dengan berbagai akibatnya. Ketiga, terjadinya mobilitas dan
kegiatan umat manusia yang tinggi dan padat. Keempat, terjadinya kecenderungan budaya
global kontemporer yaitu kehidupan yang materialistis, hedonistik, maupun
pengingkaran terhadap nilai-nilai agama. Kelima, terjadinya krisis sosok
keteladanan bagi bangsa, kerana figur-figur kurang amanah. Dari pernyataan ini,
jelas bahwa dakwah
yang dinamis semakin diperlukan untuk merespon tuntutan zaman. Dakwah dinamis
merupakan kegiatan yang
mendorong pencapaian
kemajuan dunia namun berlandaskan
agama. Dakwah bukan hanya mengaji,
tetapi berkaitan dengan kebutuhan hidup
duniawi. Dakwah juga bertujuan untuk menyiapkan umat yang
sejahtera secara duniawi yang sekaligus memiliki moralitas agama.
Di
tengah arus informasi yang kian hebat, kecenderungan kegiatandakwah tak lagi
memperlihatkan taji. Ketika dakwah sudah tak sakral, sekedar hiburan, harapan
terjadinya perubahan atas dasar dakwah sulit terjadi. Oleh karenanya,
diperlukan pola baru, dakwah tidak sekadar mengaji akidah, syariah semata,
tetapi juga mendorong daya produktif ummat. Dakwah semestinya menyintuh
realitas yang bertema sosiologis.
D. Hubungan
Sosiologis dengan dakwah
Dakwah merupakan
bagian penting dari pemikiran masyarakat, maka sosiologi bisa
diharapkan memiliki peran penting dalam pemikiran dakwah.
Tugas dakwah menurut soiologi adalah menjaga harmonisasi
kehidupan masyarakat dan mendorong kemajauan
masyarakat, hal ini sesuai dengan tujuan dakwah itu sendiri, kemaslahatan umat
atau kemajuan masyarakat.
Maka eksistensi
sosiologi dakwah sangat dibutuhkan untuk menunjang kelancaran berkomunikasi dan
berinteraksi dengan baik antar sesama. Karena, sosiologi dakwah
tujuan awalnya untuk menjaga stabilitas kehidupan bermasyarakat dan
bersosial.
Mengacu pada unsur-unsur
dan wilayah telaah sosiologi terhadap fenomena dakwah, maka sosiologi dakwah
berusaha mencari batasan lebih empiris terhadap kajian dakwah sebagai bentuk
interaksi sosial dakwah, yaitu sisi misi sosiologis dalam agama. Dakwah islam
yang cenderung ideologis menitik beratkan pada upaya legalisasi nilai-nilai
agama dan menyebarkannya kepada manusia sehingga tampak sekali akan selalu
berurusan dengan persoalan organisasi sosial dakwah dan lembaga dakwah.
Sosiologi dakwah juga
menelaaah bagaimana interaksi antara da’i dan sasaran dakwah (mad’u), da’i
dengan da’i, dan mad’u dengan sesamanya. Persepsi mereka tentang masalah dakwah
dan bagaimana cara mengkomunikasikannya merupakan bahasan menarik dalam
sosiologi. ‘ala kulli hal, sosiologi dakwah mencoba membaca
bagaimana dialektika interaktif unsur-unsur dalam dakwah dengan lingkungannya,
termasuk bagaimana perkembangan pemaknaan dan praktek dakwah mulai dari
pemahaman sebagai ajakan kepada manusia agar memeluk islam (ad-Dakwah
al-Ula),sehingga persoalan dakwah berhubungan dengan jihad.
Gerakan dan pemahaman
dakwah dalam konteks indonesia ternyata memiliki kekhasan tersendiri dan boleh
dibilang memiliki cara dan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan dakwah di
daerah lain-lain baik di barat maupun di timur. Pemahaman dan gerakan dakwah di
indonesia tampak lebih ramah terhadap nilai-nilai budaya lokal sehigga secara
sosiologi dirasa lebih menyejukkan dan jauh dari hiruk pikuk pertikaian.
Letupan-letupan konflik sosial yang akhir-akhir ini terjadi lebih pada masalah
fundamental sosial, seperti kebutuhan dasar hidup dan ketimpangan ekonomi dari
pada masalah dakwah yang bersifat nilai-nilai islami.
E. Hubungan
Antropologi dengan Dakwah
Antropologi adalah suatu
studi yang mempelajari tentang kehidupan manusia baik dari segi fisik, sosial
dan budayanya. Sebagai salah satu cabang ilmu antropologi juga sebuah
studi yang mempelajari tentang budaya yang ada pada kalangan masyarakat dalam
suatu etnis tertentu. Hubungannya dengan dakwah adalah bagaimana Islam di
implementasikan secara komprehensif pada tatanan masyarakat
dimana kita mempelajari seluk beluk manusia, kehidupan sosial mereka,
kebudayaannya, sehingga antropologi dakwah menjadi satu kajian ilmu yang
penting bagi terciptanya tatanan kehidupan yang harmonis bagi Dakwah Islam
dewasa ini.
Secara antropologis,
konsep dakwah yang di tanamkan pada seorang da’i adalah dengan perantara
komunikasi, mengapa demikian? merupakan transenden bagi kelancaran
penyampaian tugas dakwah. Komunikasi sendiri bermacam-macam dalam pembagiannya,
salah satunya saja dengan komunikasi massa. Seorang Da’i yang memberikan
kontribusi dakwah nya harus mengetahui situasi dan kondisi masyarakat pada saat
itu, maka ketika Dakwah berlangsung tidak akan terjadi miss komunikasi
antara Da’i dan Mad’u.
Didalam
antropologi sendiri, kita akan menjumpai konsep dalam berdakwah,
diantaranya Pendekatan terhadap
masyarakat, Memiliki jiwa kritis yang mampu
membaca serta menerka lingkungan sekitar Dapat memahami apa yang
sedang dibutuhkan oleh masyarakat (mad’u) Mampu memahami perkembangan yang terjadi di sekitar. Karena tidak dapat di pungkiri lagi bahwa perana
antropologi dalam dakwah amatlah besar guna mempengaruhi besar tidaknya kemungkinan berhasilnya dakwah tersebut,
sebuah contoh metode dakwah yang
diakukan oleh sunan kali jaga, yaitu dimana beliau sebelum berdakwah
meneliti terlebih dahulu apa yang sedang digemari oleh masyarakatnya, dakwah
via wayang adalah salah satu contoh dalam pengamalan serta perpaduan antara
antropologi dan dakwah itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
sosiologi adalah suatu
ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara bermacam-macam gejala
sosial, antara manusia dengan kelompok-kelompoknya maupun dengan lingkungannya
yang termasuk didalam struktur dan proses sosial dalam masyarakat.
antropologi adalah ilmu
yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara
berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai-nilai) yang dihasilkan, sehingga setiap
manusia satu dengan lainnya berbeda.
Dakwah
adalah aktiviti dinamis. Dakwah harus mampu memberikan jawaban terhadap setiap
perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Corak dan bentuk dakwah
dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan segala perubahan dan perkembangan
masyarakat.
eksistensi sosiologi
dakwah sangat dibutuhkan untuk menunjang kelancaran berkomunikasi dan
berinteraksi dengan baik antar sesama. Karena, sosiologi dakwah
tujuan awalnya untuk menjaga stabilitas kehidupan bermasyarakat dan
bersosial, dan Secara antropologis, konsep dakwah yang di tanamkan
pada seorang da’i adalah dengan perantara komunikasi, mengapa
demikian? merupakan transenden bagi kelancaran penyampaian tugas
dakwah. Komunikasi sendiri bermacam-macam dalam pembagiannya, salah satunya
saja dengan komunikasi massa.
DAFTAR PUSTAKA
Mas’udi. 2013. Histografi
Keberagamaan Manusia. Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.
Azwar, Welhendri.
2014.
Sosiologi
Dakwah. Padang : Imam Bonjol Press.
Ihromi, I. TO.
2006.
Pokok-Pokok
Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Saputra, Wahidin.
2012.
Pengantar
Ilmu Dakwah. Jakarta
: Rajawali Perss.
Moh, Alwi M.
Antropologi
Dakwah. Jurnal. Diakses pada tanggal 28 November 2018, pukul 21.00 WIB.
Mas’udi., Histografi
Keberagamaan Manusia, (Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, 2013). hlm.
3
Moh, Alwi M.
Antropologi
Dakwah. Jurnal. Diakses pada tanggal 28 November 2018, pukul 21.00 WIB.
Wahidin,
Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah,
(Jakarta : Rajawali Perss,
2012),
hlm. 1-2
I. TO
Ihromi,.
Pokok-Pokok
Antropologi Budaya, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,
2006), hlm. 91