Minggu, 23 Desember 2018

pengaruh konvergensi media ditengah pendidikan komunikasi islam


Pengaruh Kovergensi Media di Tengah Pendidikan Komunikasi Islam
Muhammad Rif’an
1740210054
Mahasiswa Jurusan Dakwah dan Komunikasi
Institut Agama Negeri Kudus

Abstrak
Pada artikel ini menjelaskan pengaruh kovergensi media di tengah pendidikan komunikasi islam. zaman era sekarang ini sebuah perguruan tinggi itu memanfaatkan bagaimana peluang dari dinamika media massa yang sudah melakukan konvergensi akibat tuntunan dari sebuah kemajuan teknologi dan komunikasi. Artikel ini berpendapat bahwa jurusan ilmu komunikasi dan komunikasi pensyiaran islam itu lebih memperhatikan sebuah orientasi operasi teknis dalam sistem pembelajarannya, yang menawarkan peluang besar bagi lapangan kerja sekaligus dakwah islam.
Kata Kunci : Pendidikan Komunikasi, Orientasi teknik, Konvergensi media.

A.    PENDAHULUAN
Pada dasarnya sebuah perguruan tinggi di Indonesia ini sudah lama menyelenggarakan ilmu komunikasi. awalnya sebuah perguruan tinggi menggunakan nama pendidikan ilmu komunikasi massa dan pendidikan ilmu publistik. Akan tetapi pada tahun 1982 yang melalui keputusan presiden RI No. 107, nama ilmu komunikasi massa dan ilmu publistik itu diseragamkan menjadi ilmu komunikasi. Yang dimana pada sejak tahun 1982 sampai sekarang inilah, Indonesia hanyalah mengenal pendidikan ilmu komunikasi.
Kendati demikian, perguruan tinggi yang dalam pengoprasionalisai pendidikan ilmu komunikasi itu berbeda-beda. Ada yang menempatkannya dalam kelembagaan di bawah jurusan. Ada pula yang meletakkan di bawah patung fakultas. Ketika pendidikan ilmu komunikasi berada di bawah jurusan, nama fakultas yang menaunginya tidak selalu sama. Ada yang berada di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ada pula yang berada di bawah Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya, bahkan sebagian perguruan tinggi meletakkannya di bawah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Dengan begitu, setiap jurusan ilmu komunikasi punya kebebasan untuk menginduk ke fakultas mana pun.
B.     PEMBAHASAN
Pendidikan Komunikasi
Dimana, suatu pendidikan itu adalah suatu komunikasi yang didalamnya mengandung sebuah arti kata, bahwa dalam proses tersebut terjadi dua komponen yang saling berinteraksi, dimana seorang pengajar sebagai komunikator dan seorang pelajar itu sendiri sebagai komunikan. Dan pada dasarnya pendidikan komunikasi atau pendidikan ilmu komunikasai itu dibagi menjadi dua orientasi yaitu, orientasi akademis dan orientasi operasi teknis. Orientasi akademis itu mengarah pada suatu kemampuan intelektual seseorang, sedangkan orientasi teknis itu mengarah pada pengembangan kempuan psikomotorik.
Lapangan kerja mahasiswa yang menekuni orientasi akademis tentu saja berbeda dengan mereka yang menekuni operasi teknis. Dimana, mereka yang menekuni orientasi akademis biasanya bekerja sebagai peneliti, dosen maupun supervisor bidang komunikasi. Sedangkan Mereka yang menekuni operas teknis biasanya bekerja sebagai operator bidang komunikasi. Apapun pekerjaan mereka, tetap saja mereka disebut sebagai
sarjana ilmu komunikasi. 
Akan tetapi, akhir-akhir ini seolah-olah pendidikan ilmu komunikasi itu berorientasi akademis saja yang memerlukan teori dan metodologi ilmu komunikasi. Pendidikan ilmu komunikasi yang berorientasi operasi teknis tidak memerlukan kedua hal tersebut. Padahal keduanya juga membutuhkan teori dan metodologi ilmu komunikasi.
Dalam hal ini, sesungguhnya perhatian jurusan atau fakultas ilmu komunikasi dalam mengajarkan teori dan metodologi ilmu komunikasi yang berorientasi operasi teknis. Dan Harus diakui bahwa perhatian mereka tidak begitu besar. Ini bisa dilihat dari perbandingan mata kuliah yang berorientasi akademis dan orientasi operasi teknis. Jumlah mata kuliah yang termasuk orientasi operasi teknis jauh lebih sedikit dari mata kuliah yang termasuk orientasi akademis. Tidak heran juga bila mahasiswa yang ingin memiliki orientasi operasi teknis kurang didukung oleh mata kuliah-mata kuliah yang memadai. Masalahnya adalah bagaimana mengoptimalkan pendidikan komunikasi Islam berorientasi teknis.
Konvergensi media
Berkat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi lantas muncul istilah konvergensi. Berawal dari konvergensi jaringan, kemudian tercipta konvergensi media. Untuk saat ini, konvergensi media bagi pengusaha media merupakan sebuah keniscayaan. Jakob Oetama pernah mengatakan bahwa kehadiran konvergensi tidak bisa ditunda:
“create once, publish many”. Suratkabar mentransformasikan news room-nya untuk mengoptimalkan kesempatan yang ditawarkan teknologi untuk memperkuat brand-nya, mengendalikan biaya dan menarik pelanggan baru.
Seturut dengan tuntutan terjadinya konvergensi media tersebut, maka news room lantas dipakai beramai-ramai, baik oleh mainstream Pendidikan Komunikasi Islam di Tengah Konvergensi Media
           
C.    KESIMPULAN  
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan ilmu komunikasi di Indonesia memiliki dua orientasi, yakni orientasi akademis dan operasi teknis. Kedua berorientasi pada teori dan metodologi ilmu komunikasi. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa pengelola jurusan atau fakultas ilmu  komunikasi lebih memperhatikan pendidikan ilmu komunikasi yang beorientasi akademis. Akibatnya, pendidikan ilmu komunikasi yang berorientasi operasi teknis tidak memperoleh perhatian yang memadai.Kesimpulan ini seharusnya menjad isyarat bagi jurusan komunikasi Islam khususnya, dan ilmu komunikasi secara umum, untuk lebih memperhatikan orientasi operasi teknis pendidikan ilmu komunikasi yang menawarkan peluang besar bagi lapangan kerja sekaligus dakwah Islam.















DAFTAR PUSTAKA
Jay David Bolter, Jay David & Grusin, Richard. 2000, Remediation;
Understanding Media. Cambridge, MIT Press, Massachusetts.
Oetama, Jakob. 2002, Kontribusi Ilmu, Teknologi dan Praktisi
Komunikasi dalam Pengembangan Pendidikan Komunikasi,
Makalah disampaikan pada Seminar  Temu Alumni Jurusan
Ilmu Komunikasi UGM, Yogyakarta 6 Juli.
Siregar, Ashadi. 2002, Pendidikan Ilmu Komunikasi di Indonesia,
Makalah disampaikan pada Seminar Temu Alumni Jurusan
Ilmu Komunikasi UGM, Yogyakarta 6 Juli

Selasa, 18 Desember 2018

bahasa jurnalistik

BAHASA JURNALISTIK
Dalam dunia kejurnalistikan, Bahasa jurnalistik gaya bahasa yang digunakan dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik juga sering disebut sebagai bahasa pers, media massa. Dimana Seorang jurnalisme dalam berbahasa harus faham dan mengerti betul tentang bahasa jurnalistik. Dengan menggunakan bahasa jurnalistik, tulisan yang semua kita anggap biasa-biasa saja, tidak menarik untuk dibaca, dan bahasanya tidak efektif. Dapat menjadi tulisan yang ringkas, padat, jelas serta yang paling penting adalah enak untuk dibaca dan diresapi. 
Tentunnya Bahasa jurnalistik meliputi, :
1. Haruslah sesuai dengan EYD ( Ejaan Yang Disempurnakan),
2. Haruslah dalam bentuk baku 
3. Terakhir, bahasanya harus efektif juga. 
Itulah ciri- ciri dari Bahasa jurnalistik yang akan membuat tulisan di media massa menjadi lebih komunikatif. Tidak bertele- tele dan basa-basi.

Nama : muhammad rif'an
Nim.   : 1740210054

sumber berita

Kita masih di dunia jurnalisme dimana saya akan menjelaskan tentang sumber berita. 
Pada hakikatnya Sumber berita adalah detak jantung dari jurnalisme. Kunci agar karir dapat menanjak terletak pada networking, sehingga penting sekali bagi para jurnalis untuk menjaga kontak dan hubungan dengan para sumber.
1. Observasi Langsung
Sumber ini paling meyakinkan para konsumen berita, karena para jurnalis mengamati secara langsung peristiwa yang terjadi. Terdapat kepercayaan yang besar dari perusahaan media dan konsumen kepada para jurnalis dalam menghimpun fakta melalui observasi. 
Langkah ini dapat dilakukan dengan yang disebut sebagai cover both sides di mana suatu isu bisa melibatkan dua sampai lebih banyak pihak—sekarang bisa disebut juga sebagai cover all sides. Hal ini dilakukan agar dapat memverifikasi data yang diperoleh.
2. Sistem Beat
 
Sistem ini mengarahkan para jurnalisnya untuk memegang bidang tertentu. Pembagian ini bisa berdasarkan wilayah atau bidang-bidang dalam suatu media, contohnya bidang politik, hukum, olahraga,entertainment, metropolitan, atau ekonomi. Bahkan, dari bidang-bidang tersebut bisa diperkecil lagi, 
3. Narasumber
Dimana seorang jurnalistik harus diperhatikan saat mewawancarai narasumber adalah pastikan sumber yang diwawancara itu memenuhi syarat, seperti kredibel dan dapat dipercaya. Berlaku juga jika mengambil sumber dari referensi, karena bisa saja sumber referensi itu sudah tidak relevan karena adanya perkembangan seiringnya waktu.
4. Wawancara
 
Terdapat tiga prinsip dasar dari wawancara, yaitu:
  1. Wawancara pada dasarnya adalah perbincangan antara dua pihak untuk mendapatkan informasi yang akan disampaikan kepada publik. Pembicaraan ini merupakan pertukaran informasi yang bisa memunculkan suatu kebenaran.
  2. Bukan berarti jurnalis menjadi banyak bicara saat wawancara. Justru yang seharusnya banyak bicara adalah yang diwawancara karena orang tersebut yang memiliki informasi yang jurnalis inginkan. Menjadi tugas jurnalis untuk menggali informasi tersebut lewat wawancara.
  3. Jurnalis dianjurkan agar menjadi ahli setelah mewawancarai narasumber terhadap suatu topik tertentu. Dalam hal ini, jurnalis dengan narasumber harus sama-sama terbuka dan berterus terang agar keduanya sama-sama mendapatkan keuntungan.
Selain ketiga hal di atas, kunci yang harus diingat jurnalis untuk bisa melakukan wawancara yang baik adalah mendengarkan narasumber dengan baik. Selain itu seorang jurnalis maupun narasumber memiliki gaya bertanya dan menjawab yang berbeda. Maka dari itu dibutuhkan kemampuan yang lebih bagi jurnalis untuk memahami sifat dan karakter dari narasumber. Jangan lupa untuk menanyakan pertanyaan klimaks di pertanyaan terakhir. 
Nama : m rif'an
Nim.   : 1740210054

jurnalisme islam

Pada pertemuan selanjutnya yang sekarang ini ibu dosen menjelaskan tentang seputar dunia jurnalistik
Yang membahas tentang jurnalisme islam,,, apa sih, jurnalisme islam itu,,
"JURNALISME ISLAM" pembahasan yang sangat menarik. Jurnalisme pertama terbit di majalah disabili, pada tahun 1984. Sebagai media bawah tanah yaitu keberadaannya tidak diketahui oleh pemerintah, namun pemerintah tidak melarang hal tersebut. Beritanya berisi seputar masalah yang berhubungan dengan kegamaan, seperti perzinaan dan hukuman bagi pelakunya.
Dalam UUD no 28 sudah dijelaskan bahwa setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya masing-masing.
Di Minangkabau terbit majalah pertama yaitu al-munir pada tanggal 1 April 1911. Pelopornya adalah haji Abdullah Ahmad.

Nama : muhammad rif'an
Nim. : 1740210054

Senin, 17 Desember 2018

berita terbaru

Berita terbaru,,
Puluhan rumah warga di kawasan wisata Desa Wonosoco Kecamatan Undaan Kudus, Selasa (4/11) sore diterjang banjir bandang yang datang dari lereng Pegunungan Kendeng (Pegunungan Kapur Utara). Gelontoran air setinggi antara 30-100 cm itu membawa material lumpur pekat dan bebatuan kecil, berlangsung sekitar 20 menut. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.Kepala Desa Wonosoco Setiyo Budi mengatakan, banjir bandang terjadi setelah hujan deras selama sekitar setengah jam mulai pukul 14.00 di kawasan Pegunungan Kendeng Desa Wonosoco. Luapan air bercampur lumpur masuk ke dalam rumah yang dihuni sekitar 50 kepala keluarga (KK) di RT.01,02,04-RW.01, sekitar pukul 14.30. Lumpur juga menutup kolam renang dan lokasi wisata SendangDewot.“Ketinggian air yang datang dari lereng Pegunungan Kendeng itu mencapai satu meter. Ini banjir bandang ke sebelas sejak 10 tahun terakhir,” ungkapnya.Camat Undaan Rinardi Budiyanto menambahkan, usai banjir bandang ratusan warga langsung membersihkan sisa lumpurdi rumah masing- masing. Sedang pembersihan di area wisata Sendang Dewot dilakukan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, aparat TNI-Polri, petugas kecamatan dan desa setempat.Mereka membersihkan lumpur setebal hingga 20 cm dengan menyemprotkan air dari truk tangki dan pompa diesel ke halaman Sendang Dewot. Sedang lumpur yang masuk ke dalam kolam renang sendang wisata itu mencapai ketebalan 50 cm. Sementara menurut salah seorang warga RT.04-RW.01 Desa Wonosoco, Sukurmin (55), banjir datang begitu cepat dan air langsung menghilang. “Kami selalu was- was jika terjadi hujan lebat. Banjir bandang sering terjadi bahkan pernah menelan korban jiwa dan merusakkan rumah warga,” katanya.Banjir serupa terakhir terjadi pada 21 januari 2017. Dua orang wisatawan hanyut, seorang korban warga Desa Undaan Lor Kecamatan Undaan tewas.Terjangan banjir juga menghanyutkan beberapa sepeda motor, dua di antaranya mengalami rusak berat. Selain itu, tembok pagar kolam renang sepanjang 20 meter tinggi 2 meter ambruk, dan dinding talud sungai sepanjang 15 meter ambrol.

Nama : m rif'an
Nim.   : 1740210054
Pada pertemuan kali ini saya sebgi mahasiswa akan menerangakan tentang nilai berita yang sebelumnya dijepaskan oleh ibu dosen saya,,, langsung saja,, dalam sebuah brrita pastinya trdiri dari beberapa nilai berita unsur-unsur berita sebagai nilai berita (news value), yaitu:
-keluarbiasaan (unusualness), keluarbiasaan yang dimaksud adl nilai berita luar biasa itu paling tidak dapat dilihat dari lima aspek: lokasi peristiwa, waktu peristiwa itu terjadi, dan dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut (baik dalam bentuk jiwa maupun harta) serta menyangkut kemungkinan perubahan aktivitas masyarakat;
-kebaruan (newsness) berita adalah sesuatu yang terbaru. Presiden yang baru dilantik, walikota yng baru diangkat, artis yang baru melahirkan, pejabat yang baru masuk penjara, semua itu merupakan berita;
-akibat (impact) berita adalah sesuatu yang memiliki akibat atau dampak. Suatu peristiwa atau hal tidak jarang menimbulkan dampak, terutama dampak dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, kenaikan harga sembako, dll;
 -aktual (actual) berita adalah apa yang terjadi hari ini. Semakin aktual berita itu semakin tinggi pula nilai beritanya;
-kedekatan (proximity) adalah berkaitan dengan jauh dekatnya peristiwa itu dengan kehidupan masyarakat atau khalayak.
-informasi (information) merupakan hal penting yang sering dibutuhkan oleh masyarakat. Informasi merupakan segala sesuatu yang dapat menghilangkan ketidak pastian;
-konflik (conflict) berita adalah konflik (news is conflict) segala sesuatu yang mengandung konflik merupakan sumber berita yang tidak pernah kering.
-orang penting (public figure) berita berkaitan dengan orang-orang penting, seperti: pejabat, artis, orang-orang terkenal, selebriti.
-ketertarikan manusiawi (human interest) suatu peristiwa kadang dapat menimbulkan efek emosi yang berarti pada diri khalayak. Berita yang demikian merupakan berita yang dapat memiliki nilai human interest;
-kejutan (surprising) sesuatu yang mengejutkan merupakan suatu berita
-(news is surprising). Kejutan biasanya datang tiba-tiba dan tak disangka.
-seks (sex) dalam dunia jurnalistik, seks juga berarti berita (news is sex). Berita yang berkaitan dengan seks.

Nama : m rif'an
Nim.  : 1740210054

pengertian jurnalistik

Dalam pertemuan pertemuan pertama makul jurnalistik yg di bimbing ibu dosen primi rohimi yang menjelaskan tentang apa itu jurnalistik,, yaitu bahwa,,
Sebuah Jurnalistik adalah proses, ilmu pengumpulan, penulisan atau sebuah penyuntingan, dan publikasi berita. Menjadi seorang juenalis adalah sebuah pekerjaan atau provesi yang menjadi dambaan banyak orang, khususnya kaum muda. Jurnalistik Menjadi dambaan karena kita bisa menjadi orang yang pertama kali tahu tentang suatu berita atau suatu kejadian karena saat itu kitalah yang meliput berita tersebut, keuntungan lain menjadi seorang jurnalis adalah wawasan kita menjadi lebih luas dari umumnya masyarakat karena itu adalah sebuah tuntutan yang harus dimiliki seorang jurnalis. Seorang jurnalis harus memiliki karakteristik yang wajib dipatuhi ketika meliput berita atau wawancara dengan seorang tokoh atau dalamkegiatan jurnalistik lainnya, yaitu:
1. Klarifikasi, ketika seorang jurnalis mendapatkan kabar berita harus di klarifikasi dengan orang yang bersangkutan, karena tidak boleh seorang jurnalis asal mempublikasikan berita tanpa di dahului dengan klarifikasi mengingat sekarang sedang beredar berita hoax yang sangat meresahkan masyarakat.
2. Tidak boleh berpihak, seorang jurnalis ketika mendapatkan sebuah berita tidak boleh berpihak denga satu pihak saja harus netral dan mencari tahu dari kedua pihak yang bersangkutan.
3. Jurnalis lahir dari kebenaran, maka dari itu wajib bagi seorang jurnalis untuk selalu membela mencari sebuah kebenaran karena pada hakikatnya seoarng jurnalistik lahir dari sebuah kebenaran.

komponen" komunikasi

Komponen Komunikasi
Komunikasi merupakan Suatu bidang ilmu pasti yang memiliki komponen yang mendasari ilmu tersebut, begitu pula dengan komunikasi.
Komponen komunikasi, yaitu: Encoding adalah sebuah proses penyampaian pesan. Orang yang menyapaikan pesan ini disebut sebagai Encoder. Decoding adalah sebuah proses penerimaan pesan. Orang yang menerima pesan ini disebut sebagai Decoder.· Transmisi adalah media yang menghubungkan antara encoding dan decoding.Komunikasi juga memiliki jenis-jenis komunikasi yaitu:· Dyadic adalah sebuah proses komunikasiyang berlangsung hanya satu arah tanpa ada respon dari pihak lain.· Timbal Balik adalah sebuah proses komunikasi yang berlangsung dua arah yang mana didalam proses ini terjadi proses komunikasi yang aktif antara pihak satu dengan yang lainnya.Komunikasi juga memiliki unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah proses komunikasi yaitu: Komunikator, Pesan atau isi, Komunikan, Feed back atau umpan balik, Gangguan atau noise, yang terakhir adalah Media.


Nama : m rif'an
Kelas  : kpi b

Minggu, 02 Desember 2018

tugas UAS, makul sosioli dan antropologi dakwah,


DINAMIKA SOSIOLOGIS dan ANTROPOGI DAKWAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu :Mas’udi ,S.Fil.i., M.A.


 












Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Rif’an
Nim : 1740210054
Kelas : KPI B3







 
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Mengamati pertumbuhan kehidupan sosial kemasyarakatan ejatinya setiap pribadi akan menjumpai hal-hal yang berbeda di luar dari garis linear kehidupan dirinya. Masyarakat akan melihat orang-orang yang ada di sekitarnya memiliki keunikan individual yang mustahil dipadukan antara dirinya dengan yang lain. Untuk itulah,  dalam  dinamika  kehidupan  sosial  ini,  manusia  perlu memperoleh  pencermatan  yang  lebih  serius  sehingga  dinamika yang  berkembang  di  tengah-tengah  mereka  dapat  digolongkan sebagai suatu khazanah dalam kehidupan. Pertumbuhan  sosial  kemasyarakatan,  sosial  budaya,  dan sosial keagamaan di tengah-tengah kehidupan masyarakat adalah sebuah  keniscayaan  yang  patut  disadari  oleh  setiap  pribadi. Kesadaran tersebut perlu dibangun berdasar kepada kompleksitas dinamika  kehidupan  manusia.  Bersandar  kepada  kenyataan  ini pula, manusia perlu mengerti dan mengenal secara hakiki eksistensi dirinya.[1]
Sosiologi dan Antropologi merupakan cabang ilmu sosial. Dimana Ilmu sosial ini sendiri adalah keseluruhan disiplin yang berhubungan dengan manusia dalam arti bukan sebagai bagian dari alam belaka, tetapi ilmu ini ada karena membentuk kehidupan bermasyarakat dan kultur. Seperti yang telah kita pelajari mengenai ilmu dakwah, dapat kita korelasikan dengan ilmu sosial ini, karena dalam berdakwah kita perlu menguasai ilmu sosial khususnya dalam bermasyarakat dan mengenal budaya. Supaya seorang da’i itu dapat berdakwah secara efektif, serta dalam berdakwah seorang mad’u dapat menerima apa yang telah di sampaikan.
Dalam berdakwah, seorang dai haruslah mengetahui mad’u yang akan menerima pesan dakwah, tentu dalam berdakwah  dai melakukan interaksi agar dakwahnya berjalan efektif dan diterima oleh mad’u. Banyak para dai yang meninggalkan pendekatan sosologi antropologi dakwah sehingga terjadi penolakan terhadap mad’u tentang apa yang disampaikan tidak tercapai. Untuk itulah dia harus memahami sosialisasi dalam masyrakat setempat dan budaya mereka. 
Sebagai pengantar dalam mata kuliah Sosiologi Antropologi Dakwah kita perlu mengulang kembali defenisi dari masing-masing pembahasan ini. Apa pengertian dari sosiologi, antropologi, dan bagaimana hubungannya dengan dakwah.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian sosiologis
2.      Apa pengertian Antropologi
3.      Apa pengertian dakwah
4.      Apa hubungan sosiologis dengsn dakwah
5.      Apa hubungan antropologi dengan dakwah
C.     TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian sosiologis
2.      Mengetahui pengertian Antropologi
3.      Mengetahui pengertian dakwah
4.      Mengetahui hubungan sosiologis dengsn dakwah
5.      Mengetahui hubungan antropologi dengan dakwah


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sosiologis
Secara etimologis sosiologi berasal dari bahasa latin, yaitu socius dan logos. Socius berarti ‘teman’ atau ‘kawan’. Sedangkan logos dalam bahasa Yunani berarti ‘kata’ atau ‘berbicara’. Jadi sosiologi berarti membicarakan atau memperbincangkan pergaulan hidup manusia. Pengertian inii kemudian diperluas menjadi suatu ilmu pengetahuan yang membahas serta mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat.
Sedangkan secara terminologis sosiologi didefenisikan oleh banyak ahli sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing. Emil Durkhein misalnya berpendapat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari apa yang dinamakan fakta sosial. [2]Sedangkan Weber mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial (Sunarto, 1993). Sorokin (dalam Sukanto,2001) mendefenisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala-gejala sosial dengan non-sosial. Soermajan dan soemardi (dalam soekanto, 2001) mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Sedangkan soekato sendiri (2001) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang kategori, murni, abstrak, dan mencari pengertian-pengertian umum, rasional dan empiris. Bapak sosiologi, Aguste Comte (dalam bukunya The Positive phylosophy) sosiologi merupakan studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial yang didalamnya dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis.
Berdasarkan beberapa defenisi diatas, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara bermacam-macam gejala sosial, antara manusia dengan kelompok-kelompoknya maupun dengan lingkungannya yang termasuk didalam struktur dan proses sosial dalam masyarakat.
B.     Pengertian Antropologi
Antropologi adalah paduan dari kata Anthropos berarti manusia, dan logos berarti ilmu (keduanya asal Yunani). Menurut William A. Haviland  (1994;7) antropologi adalah studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap mngenai keanekaragaman manusia. David Hunter mengatakan bahwa antropologi adalah ilmu yang muncul dari keingintahuan yang tidak terbatas mengenai ummat manusia. Koentjaraningrat mengatakan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umum nya dengan mempelajar berbagai warna, bentuk, fisik masyarakat yang dihasilkan.[3]
Dari ketiga pengertian tersebut, pemakalah menyimpulkan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai-nilai) yang dihasilkan, sehingga setiap manusia  satu dengan lainnya berbeda.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk sebagai masyarakat tunggal, yaitu kesatuan masyarakat yang tinggal di daerah yang sama. Antropologi hampir identik dengan sosiologi. Akan tetapi, sosiologi menitikneratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya, sedangkan antropologi menitikberatkan pada unsure budaya, pola pikir, dan pola kehidupannya.
C.   Pengertian Dakwah
Dakwah adalah aktiviti dinamis. Dakwah harus mampu memberikan jawaban terhadap setiap perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Corak dan bentuk dakwah dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan segala perubahan dan perkembangan masyarakat. Banyak di antara perubahan dan perkembangan masyarakat merupakan hal-hal yang sama sekali baru dan tidak memiliki preseden di masa lalu. Hal yang baru dimaksud berkenaan dengan pola piker, pola hidup dan perilaku masyarakat. Dakwah akan  selalu  bersintuhan dengan kehidudpan masyarakat. Dalam bahasa Amrulllah Achmad, eksistensi dakwah Islam senantiasa bersentuhan dan bergelut dengan realitas yang mengitarinya. Apabila dakwah dinamis terlaksana dengan baik, maka dakwah akan berfungsi sebagai alat dinamisator dan katalisator atau filter dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan demikian dapat diasumsikan, bahwa apabila dakwah tidak melakukan perubahan, maka kemungkinan dakwah tidak relevan lagi dengan dunia yang berubah dengan cepat dan pesat. [4]
Ahmad  Watik  Pratiknya menyatakan bahwa dakwah  harus diformat  untuk  bisa  menghadapi  tantangan  zaman.  Ini  berarti bahwa dakwah tidak hanya digunakan untuk merehabilitasi dampak kemungkaran akibat  perkembangan  zaman  tetapi  juga  bisa  dijadikan sebagai determinan dalam mengendalikan perkembangan zaman. Ada lima ciri dan esensi perkembangan zaman atau globalisasi yang harus diperhatikan  dalam  pelaksanaan  dakwah.  Pertama, terjadinya proses transfer nilai yang intensif dan ekstensif. Kedua, terjadinya transfer teknologi yang masif  dengan  berbagai  akibatnya. Ketiga, terjadinya mobilitas dan kegiatan umat manusia yang tinggi dan padat. Keempat, terjadinya kecenderungan budaya global kontemporer yaitu kehidupan yang materialistis, hedonistik, maupun pengingkaran terhadap nilai-nilai agama. Kelima, terjadinya krisis sosok keteladanan bagi bangsa, kerana figur-figur kurang amanah. Dari pernyataan  ini,  jelas  bahwa  dakwah  yang  dinamis  semakin diperlukan untuk  merespon tuntutan zaman. Dakwah dinamis merupakan  kegiatan  yang  mendorong pencapaian  kemajuan  dunia namun  berlandaskan  agama. Dakwah bukan hanya  mengaji, tetapi berkaitan  dengan kebutuhan hidup duniawi. Dakwah  juga  bertujuan untuk menyiapkan umat yang sejahtera secara duniawi yang sekaligus memiliki moralitas agama.
Di tengah arus informasi yang kian hebat, kecenderungan kegiatandakwah tak lagi memperlihatkan taji. Ketika dakwah sudah tak sakral, sekedar hiburan, harapan terjadinya perubahan atas dasar dakwah sulit terjadi. Oleh karenanya, diperlukan pola baru, dakwah tidak sekadar mengaji akidah, syariah semata, tetapi juga mendorong daya produktif ummat. Dakwah semestinya menyintuh realitas yang bertema sosiologis.
D.   Hubungan Sosiologis dengan dakwah
Dakwah  merupakan bagian penting dari pemikiran masyarakat, maka sosiologi  bisa diharapkan  memiliki peran penting  dalam pemikiran dakwah. Tugas dakwah menurut soiologi adalah menjaga harmonisasi kehidupan    masyarakat  dan mendorong kemajauan masyarakat, hal ini sesuai dengan tujuan dakwah itu sendiri, kemaslahatan umat atau kemajuan masyarakat.
Maka eksistensi sosiologi dakwah sangat dibutuhkan untuk menunjang kelancaran berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik antar sesama. Karena, sosiologi dakwah tujuan awalnya untuk menjaga stabilitas kehidupan bermasyarakat dan bersosial.[5]
Mengacu pada unsur-unsur dan wilayah telaah sosiologi terhadap fenomena dakwah, maka sosiologi dakwah berusaha mencari batasan lebih empiris terhadap kajian dakwah sebagai bentuk interaksi sosial dakwah, yaitu sisi misi sosiologis dalam agama. Dakwah islam yang cenderung ideologis menitik beratkan pada upaya legalisasi nilai-nilai agama dan menyebarkannya kepada manusia sehingga tampak sekali akan selalu berurusan dengan persoalan organisasi sosial dakwah dan lembaga dakwah.
Sosiologi dakwah juga menelaaah bagaimana interaksi antara da’i dan sasaran dakwah (mad’u), da’i dengan da’i, dan mad’u dengan sesamanya. Persepsi mereka tentang masalah dakwah dan bagaimana cara mengkomunikasikannya merupakan bahasan menarik dalam sosiologi. ‘ala kulli hal,  sosiologi dakwah mencoba membaca bagaimana dialektika interaktif unsur-unsur dalam dakwah dengan lingkungannya, termasuk bagaimana perkembangan pemaknaan dan praktek dakwah mulai dari pemahaman sebagai ajakan kepada manusia agar memeluk islam (ad-Dakwah al-Ula),sehingga persoalan dakwah berhubungan dengan jihad.[6]
Gerakan dan pemahaman dakwah dalam konteks indonesia ternyata memiliki kekhasan tersendiri dan boleh dibilang memiliki cara dan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan dakwah di daerah lain-lain baik di barat maupun di timur. Pemahaman dan gerakan dakwah di indonesia tampak lebih ramah terhadap nilai-nilai budaya lokal sehigga secara sosiologi dirasa lebih menyejukkan dan jauh dari hiruk pikuk pertikaian. Letupan-letupan konflik sosial yang akhir-akhir ini terjadi lebih pada masalah fundamental sosial, seperti kebutuhan dasar hidup dan ketimpangan ekonomi dari pada masalah dakwah yang bersifat nilai-nilai islami.
E.    Hubungan Antropologi dengan Dakwah
Antropologi adalah suatu studi yang mempelajari tentang kehidupan manusia baik dari segi fisik, sosial dan budayanya.  Sebagai salah satu cabang ilmu antropologi juga sebuah studi yang mempelajari tentang budaya yang ada pada kalangan masyarakat dalam suatu etnis tertentu. Hubungannya dengan dakwah adalah bagaimana Islam di implementasikan  secara komprehensif pada tatanan masyarakat dimana kita mempelajari seluk beluk manusia, kehidupan sosial mereka, kebudayaannya, sehingga antropologi dakwah menjadi satu kajian ilmu yang penting bagi terciptanya tatanan kehidupan yang harmonis bagi Dakwah Islam dewasa ini.
Secara antropologis, konsep dakwah yang di tanamkan pada seorang da’i adalah dengan perantara komunikasi, mengapa demikian?  merupakan transenden bagi kelancaran penyampaian tugas dakwah. Komunikasi sendiri bermacam-macam dalam pembagiannya, salah satunya saja dengan komunikasi massa. Seorang Da’i yang memberikan kontribusi dakwah nya harus mengetahui situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu, maka ketika Dakwah berlangsung tidak akan terjadi miss komunikasi antara Da’i dan Mad’u. [7]
Didalam antropologi sendiri, kita akan menjumpai konsep dalam berdakwah, diantaranya Pendekatan terhadap masyarakat, Memiliki jiwa kritis yang mampu membaca serta menerka lingkungan sekitar Dapat memahami apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat (mad’u) Mampu memahami perkembangan yang terjadi di sekitar. Karena tidak dapat di pungkiri lagi bahwa perana antropologi dalam dakwah amatlah besar guna mempengaruhi besar tidaknya kemungkinan berhasilnya dakwah tersebut, sebuah contoh metode dakwah yang diakukan oleh sunan kali jaga,  yaitu dimana beliau sebelum berdakwah meneliti terlebih dahulu apa yang sedang digemari oleh masyarakatnya, dakwah via wayang adalah salah satu contoh dalam pengamalan serta perpaduan antara antropologi dan dakwah itu sendiri.




















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara bermacam-macam gejala sosial, antara manusia dengan kelompok-kelompoknya maupun dengan lingkungannya yang termasuk didalam struktur dan proses sosial dalam masyarakat.
antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai-nilai) yang dihasilkan, sehingga setiap manusia  satu dengan lainnya berbeda.
Dakwah adalah aktiviti dinamis. Dakwah harus mampu memberikan jawaban terhadap setiap perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Corak dan bentuk dakwah dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan segala perubahan dan perkembangan masyarakat.
eksistensi sosiologi dakwah sangat dibutuhkan untuk menunjang kelancaran berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik antar sesama. Karena, sosiologi dakwah tujuan awalnya untuk menjaga stabilitas kehidupan bermasyarakat dan bersosial, dan Secara antropologis, konsep dakwah yang di tanamkan pada seorang da’i adalah dengan perantara komunikasi, mengapa demikian?  merupakan transenden bagi kelancaran penyampaian tugas dakwah. Komunikasi sendiri bermacam-macam dalam pembagiannya, salah satunya saja dengan komunikasi massa.




DAFTAR PUSTAKA
Mas’udi. 2013. Histografi Keberagamaan Manusia. Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.
Azwar, Welhendri. 2014. Sosiologi Dakwah. Padang : Imam Bonjol Press.
Ihromi, I. TO. 2006. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Saputra, Wahidin. 2012. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta : Rajawali Perss.
Moh,  Alwi M. Antropologi Dakwah. Jurnal. Diakses pada tanggal 28 November 2018, pukul 21.00 WIB.




[1] Mas’udi., Histografi Keberagamaan Manusia, (Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, 2013). hlm. 3
[2]  Welhendri. Azwar,.,Sosiologi Dakwah, (Padang : Imam Bonjol Press, 2014), hlm. 28
[3] Moh,  Alwi M. Antropologi Dakwah. Jurnal. Diakses pada tanggal 28 November 2018, pukul 21.00 WIB.

[4] Wahidin, Saputra,  Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta : Rajawali Perss, 2012), hlm. 1-2

[5] Mas’udi., Histografi Keberagamaan Manusia, (Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, 2013). hlm. 5
[6] Ibid, hlm.10
[7] I. TO Ihromi,. Pokok-Pokok Antropologi Budaya, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2006), hlm. 91

Si hijau pengaman kampus    Si Hijau atau sering kita sebut satpam merupakan orang yg pakaiannya menggunakan rompi hijaunya, yang tugas...