Minggu, 02 Desember 2018

tugas UAS, makul sosioli dan antropologi dakwah,


DINAMIKA SOSIOLOGIS dan ANTROPOGI DAKWAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu :Mas’udi ,S.Fil.i., M.A.


 












Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Rif’an
Nim : 1740210054
Kelas : KPI B3







 
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Mengamati pertumbuhan kehidupan sosial kemasyarakatan ejatinya setiap pribadi akan menjumpai hal-hal yang berbeda di luar dari garis linear kehidupan dirinya. Masyarakat akan melihat orang-orang yang ada di sekitarnya memiliki keunikan individual yang mustahil dipadukan antara dirinya dengan yang lain. Untuk itulah,  dalam  dinamika  kehidupan  sosial  ini,  manusia  perlu memperoleh  pencermatan  yang  lebih  serius  sehingga  dinamika yang  berkembang  di  tengah-tengah  mereka  dapat  digolongkan sebagai suatu khazanah dalam kehidupan. Pertumbuhan  sosial  kemasyarakatan,  sosial  budaya,  dan sosial keagamaan di tengah-tengah kehidupan masyarakat adalah sebuah  keniscayaan  yang  patut  disadari  oleh  setiap  pribadi. Kesadaran tersebut perlu dibangun berdasar kepada kompleksitas dinamika  kehidupan  manusia.  Bersandar  kepada  kenyataan  ini pula, manusia perlu mengerti dan mengenal secara hakiki eksistensi dirinya.[1]
Sosiologi dan Antropologi merupakan cabang ilmu sosial. Dimana Ilmu sosial ini sendiri adalah keseluruhan disiplin yang berhubungan dengan manusia dalam arti bukan sebagai bagian dari alam belaka, tetapi ilmu ini ada karena membentuk kehidupan bermasyarakat dan kultur. Seperti yang telah kita pelajari mengenai ilmu dakwah, dapat kita korelasikan dengan ilmu sosial ini, karena dalam berdakwah kita perlu menguasai ilmu sosial khususnya dalam bermasyarakat dan mengenal budaya. Supaya seorang da’i itu dapat berdakwah secara efektif, serta dalam berdakwah seorang mad’u dapat menerima apa yang telah di sampaikan.
Dalam berdakwah, seorang dai haruslah mengetahui mad’u yang akan menerima pesan dakwah, tentu dalam berdakwah  dai melakukan interaksi agar dakwahnya berjalan efektif dan diterima oleh mad’u. Banyak para dai yang meninggalkan pendekatan sosologi antropologi dakwah sehingga terjadi penolakan terhadap mad’u tentang apa yang disampaikan tidak tercapai. Untuk itulah dia harus memahami sosialisasi dalam masyrakat setempat dan budaya mereka. 
Sebagai pengantar dalam mata kuliah Sosiologi Antropologi Dakwah kita perlu mengulang kembali defenisi dari masing-masing pembahasan ini. Apa pengertian dari sosiologi, antropologi, dan bagaimana hubungannya dengan dakwah.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian sosiologis
2.      Apa pengertian Antropologi
3.      Apa pengertian dakwah
4.      Apa hubungan sosiologis dengsn dakwah
5.      Apa hubungan antropologi dengan dakwah
C.     TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian sosiologis
2.      Mengetahui pengertian Antropologi
3.      Mengetahui pengertian dakwah
4.      Mengetahui hubungan sosiologis dengsn dakwah
5.      Mengetahui hubungan antropologi dengan dakwah


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sosiologis
Secara etimologis sosiologi berasal dari bahasa latin, yaitu socius dan logos. Socius berarti ‘teman’ atau ‘kawan’. Sedangkan logos dalam bahasa Yunani berarti ‘kata’ atau ‘berbicara’. Jadi sosiologi berarti membicarakan atau memperbincangkan pergaulan hidup manusia. Pengertian inii kemudian diperluas menjadi suatu ilmu pengetahuan yang membahas serta mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat.
Sedangkan secara terminologis sosiologi didefenisikan oleh banyak ahli sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing. Emil Durkhein misalnya berpendapat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari apa yang dinamakan fakta sosial. [2]Sedangkan Weber mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial (Sunarto, 1993). Sorokin (dalam Sukanto,2001) mendefenisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala-gejala sosial dengan non-sosial. Soermajan dan soemardi (dalam soekanto, 2001) mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Sedangkan soekato sendiri (2001) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang kategori, murni, abstrak, dan mencari pengertian-pengertian umum, rasional dan empiris. Bapak sosiologi, Aguste Comte (dalam bukunya The Positive phylosophy) sosiologi merupakan studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial yang didalamnya dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis.
Berdasarkan beberapa defenisi diatas, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara bermacam-macam gejala sosial, antara manusia dengan kelompok-kelompoknya maupun dengan lingkungannya yang termasuk didalam struktur dan proses sosial dalam masyarakat.
B.     Pengertian Antropologi
Antropologi adalah paduan dari kata Anthropos berarti manusia, dan logos berarti ilmu (keduanya asal Yunani). Menurut William A. Haviland  (1994;7) antropologi adalah studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap mngenai keanekaragaman manusia. David Hunter mengatakan bahwa antropologi adalah ilmu yang muncul dari keingintahuan yang tidak terbatas mengenai ummat manusia. Koentjaraningrat mengatakan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umum nya dengan mempelajar berbagai warna, bentuk, fisik masyarakat yang dihasilkan.[3]
Dari ketiga pengertian tersebut, pemakalah menyimpulkan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai-nilai) yang dihasilkan, sehingga setiap manusia  satu dengan lainnya berbeda.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk sebagai masyarakat tunggal, yaitu kesatuan masyarakat yang tinggal di daerah yang sama. Antropologi hampir identik dengan sosiologi. Akan tetapi, sosiologi menitikneratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya, sedangkan antropologi menitikberatkan pada unsure budaya, pola pikir, dan pola kehidupannya.
C.   Pengertian Dakwah
Dakwah adalah aktiviti dinamis. Dakwah harus mampu memberikan jawaban terhadap setiap perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Corak dan bentuk dakwah dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan segala perubahan dan perkembangan masyarakat. Banyak di antara perubahan dan perkembangan masyarakat merupakan hal-hal yang sama sekali baru dan tidak memiliki preseden di masa lalu. Hal yang baru dimaksud berkenaan dengan pola piker, pola hidup dan perilaku masyarakat. Dakwah akan  selalu  bersintuhan dengan kehidudpan masyarakat. Dalam bahasa Amrulllah Achmad, eksistensi dakwah Islam senantiasa bersentuhan dan bergelut dengan realitas yang mengitarinya. Apabila dakwah dinamis terlaksana dengan baik, maka dakwah akan berfungsi sebagai alat dinamisator dan katalisator atau filter dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan demikian dapat diasumsikan, bahwa apabila dakwah tidak melakukan perubahan, maka kemungkinan dakwah tidak relevan lagi dengan dunia yang berubah dengan cepat dan pesat. [4]
Ahmad  Watik  Pratiknya menyatakan bahwa dakwah  harus diformat  untuk  bisa  menghadapi  tantangan  zaman.  Ini  berarti bahwa dakwah tidak hanya digunakan untuk merehabilitasi dampak kemungkaran akibat  perkembangan  zaman  tetapi  juga  bisa  dijadikan sebagai determinan dalam mengendalikan perkembangan zaman. Ada lima ciri dan esensi perkembangan zaman atau globalisasi yang harus diperhatikan  dalam  pelaksanaan  dakwah.  Pertama, terjadinya proses transfer nilai yang intensif dan ekstensif. Kedua, terjadinya transfer teknologi yang masif  dengan  berbagai  akibatnya. Ketiga, terjadinya mobilitas dan kegiatan umat manusia yang tinggi dan padat. Keempat, terjadinya kecenderungan budaya global kontemporer yaitu kehidupan yang materialistis, hedonistik, maupun pengingkaran terhadap nilai-nilai agama. Kelima, terjadinya krisis sosok keteladanan bagi bangsa, kerana figur-figur kurang amanah. Dari pernyataan  ini,  jelas  bahwa  dakwah  yang  dinamis  semakin diperlukan untuk  merespon tuntutan zaman. Dakwah dinamis merupakan  kegiatan  yang  mendorong pencapaian  kemajuan  dunia namun  berlandaskan  agama. Dakwah bukan hanya  mengaji, tetapi berkaitan  dengan kebutuhan hidup duniawi. Dakwah  juga  bertujuan untuk menyiapkan umat yang sejahtera secara duniawi yang sekaligus memiliki moralitas agama.
Di tengah arus informasi yang kian hebat, kecenderungan kegiatandakwah tak lagi memperlihatkan taji. Ketika dakwah sudah tak sakral, sekedar hiburan, harapan terjadinya perubahan atas dasar dakwah sulit terjadi. Oleh karenanya, diperlukan pola baru, dakwah tidak sekadar mengaji akidah, syariah semata, tetapi juga mendorong daya produktif ummat. Dakwah semestinya menyintuh realitas yang bertema sosiologis.
D.   Hubungan Sosiologis dengan dakwah
Dakwah  merupakan bagian penting dari pemikiran masyarakat, maka sosiologi  bisa diharapkan  memiliki peran penting  dalam pemikiran dakwah. Tugas dakwah menurut soiologi adalah menjaga harmonisasi kehidupan    masyarakat  dan mendorong kemajauan masyarakat, hal ini sesuai dengan tujuan dakwah itu sendiri, kemaslahatan umat atau kemajuan masyarakat.
Maka eksistensi sosiologi dakwah sangat dibutuhkan untuk menunjang kelancaran berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik antar sesama. Karena, sosiologi dakwah tujuan awalnya untuk menjaga stabilitas kehidupan bermasyarakat dan bersosial.[5]
Mengacu pada unsur-unsur dan wilayah telaah sosiologi terhadap fenomena dakwah, maka sosiologi dakwah berusaha mencari batasan lebih empiris terhadap kajian dakwah sebagai bentuk interaksi sosial dakwah, yaitu sisi misi sosiologis dalam agama. Dakwah islam yang cenderung ideologis menitik beratkan pada upaya legalisasi nilai-nilai agama dan menyebarkannya kepada manusia sehingga tampak sekali akan selalu berurusan dengan persoalan organisasi sosial dakwah dan lembaga dakwah.
Sosiologi dakwah juga menelaaah bagaimana interaksi antara da’i dan sasaran dakwah (mad’u), da’i dengan da’i, dan mad’u dengan sesamanya. Persepsi mereka tentang masalah dakwah dan bagaimana cara mengkomunikasikannya merupakan bahasan menarik dalam sosiologi. ‘ala kulli hal,  sosiologi dakwah mencoba membaca bagaimana dialektika interaktif unsur-unsur dalam dakwah dengan lingkungannya, termasuk bagaimana perkembangan pemaknaan dan praktek dakwah mulai dari pemahaman sebagai ajakan kepada manusia agar memeluk islam (ad-Dakwah al-Ula),sehingga persoalan dakwah berhubungan dengan jihad.[6]
Gerakan dan pemahaman dakwah dalam konteks indonesia ternyata memiliki kekhasan tersendiri dan boleh dibilang memiliki cara dan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan dakwah di daerah lain-lain baik di barat maupun di timur. Pemahaman dan gerakan dakwah di indonesia tampak lebih ramah terhadap nilai-nilai budaya lokal sehigga secara sosiologi dirasa lebih menyejukkan dan jauh dari hiruk pikuk pertikaian. Letupan-letupan konflik sosial yang akhir-akhir ini terjadi lebih pada masalah fundamental sosial, seperti kebutuhan dasar hidup dan ketimpangan ekonomi dari pada masalah dakwah yang bersifat nilai-nilai islami.
E.    Hubungan Antropologi dengan Dakwah
Antropologi adalah suatu studi yang mempelajari tentang kehidupan manusia baik dari segi fisik, sosial dan budayanya.  Sebagai salah satu cabang ilmu antropologi juga sebuah studi yang mempelajari tentang budaya yang ada pada kalangan masyarakat dalam suatu etnis tertentu. Hubungannya dengan dakwah adalah bagaimana Islam di implementasikan  secara komprehensif pada tatanan masyarakat dimana kita mempelajari seluk beluk manusia, kehidupan sosial mereka, kebudayaannya, sehingga antropologi dakwah menjadi satu kajian ilmu yang penting bagi terciptanya tatanan kehidupan yang harmonis bagi Dakwah Islam dewasa ini.
Secara antropologis, konsep dakwah yang di tanamkan pada seorang da’i adalah dengan perantara komunikasi, mengapa demikian?  merupakan transenden bagi kelancaran penyampaian tugas dakwah. Komunikasi sendiri bermacam-macam dalam pembagiannya, salah satunya saja dengan komunikasi massa. Seorang Da’i yang memberikan kontribusi dakwah nya harus mengetahui situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu, maka ketika Dakwah berlangsung tidak akan terjadi miss komunikasi antara Da’i dan Mad’u. [7]
Didalam antropologi sendiri, kita akan menjumpai konsep dalam berdakwah, diantaranya Pendekatan terhadap masyarakat, Memiliki jiwa kritis yang mampu membaca serta menerka lingkungan sekitar Dapat memahami apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat (mad’u) Mampu memahami perkembangan yang terjadi di sekitar. Karena tidak dapat di pungkiri lagi bahwa perana antropologi dalam dakwah amatlah besar guna mempengaruhi besar tidaknya kemungkinan berhasilnya dakwah tersebut, sebuah contoh metode dakwah yang diakukan oleh sunan kali jaga,  yaitu dimana beliau sebelum berdakwah meneliti terlebih dahulu apa yang sedang digemari oleh masyarakatnya, dakwah via wayang adalah salah satu contoh dalam pengamalan serta perpaduan antara antropologi dan dakwah itu sendiri.




















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara bermacam-macam gejala sosial, antara manusia dengan kelompok-kelompoknya maupun dengan lingkungannya yang termasuk didalam struktur dan proses sosial dalam masyarakat.
antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai-nilai) yang dihasilkan, sehingga setiap manusia  satu dengan lainnya berbeda.
Dakwah adalah aktiviti dinamis. Dakwah harus mampu memberikan jawaban terhadap setiap perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Corak dan bentuk dakwah dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan segala perubahan dan perkembangan masyarakat.
eksistensi sosiologi dakwah sangat dibutuhkan untuk menunjang kelancaran berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik antar sesama. Karena, sosiologi dakwah tujuan awalnya untuk menjaga stabilitas kehidupan bermasyarakat dan bersosial, dan Secara antropologis, konsep dakwah yang di tanamkan pada seorang da’i adalah dengan perantara komunikasi, mengapa demikian?  merupakan transenden bagi kelancaran penyampaian tugas dakwah. Komunikasi sendiri bermacam-macam dalam pembagiannya, salah satunya saja dengan komunikasi massa.




DAFTAR PUSTAKA
Mas’udi. 2013. Histografi Keberagamaan Manusia. Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.
Azwar, Welhendri. 2014. Sosiologi Dakwah. Padang : Imam Bonjol Press.
Ihromi, I. TO. 2006. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Saputra, Wahidin. 2012. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta : Rajawali Perss.
Moh,  Alwi M. Antropologi Dakwah. Jurnal. Diakses pada tanggal 28 November 2018, pukul 21.00 WIB.




[1] Mas’udi., Histografi Keberagamaan Manusia, (Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, 2013). hlm. 3
[2]  Welhendri. Azwar,.,Sosiologi Dakwah, (Padang : Imam Bonjol Press, 2014), hlm. 28
[3] Moh,  Alwi M. Antropologi Dakwah. Jurnal. Diakses pada tanggal 28 November 2018, pukul 21.00 WIB.

[4] Wahidin, Saputra,  Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta : Rajawali Perss, 2012), hlm. 1-2

[5] Mas’udi., Histografi Keberagamaan Manusia, (Kudus : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, 2013). hlm. 5
[6] Ibid, hlm.10
[7] I. TO Ihromi,. Pokok-Pokok Antropologi Budaya, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2006), hlm. 91

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Si hijau pengaman kampus    Si Hijau atau sering kita sebut satpam merupakan orang yg pakaiannya menggunakan rompi hijaunya, yang tugas...