Pengaruh
Kovergensi Media di Tengah Pendidikan Komunikasi Islam
Muhammad
Rif’an
1740210054
Mahasiswa
Jurusan Dakwah dan Komunikasi
Institut
Agama Negeri Kudus
Abstrak
Pada
artikel ini menjelaskan pengaruh kovergensi media di tengah pendidikan
komunikasi islam. zaman era sekarang ini sebuah perguruan tinggi itu
memanfaatkan bagaimana peluang dari dinamika media massa yang sudah melakukan
konvergensi akibat tuntunan dari sebuah kemajuan teknologi dan komunikasi. Artikel
ini berpendapat bahwa jurusan ilmu komunikasi dan komunikasi pensyiaran islam itu
lebih memperhatikan sebuah orientasi operasi teknis dalam sistem
pembelajarannya, yang menawarkan peluang besar bagi lapangan kerja sekaligus
dakwah islam.
Kata Kunci
: Pendidikan Komunikasi, Orientasi teknik, Konvergensi media.
A.
PENDAHULUAN
Pada dasarnya sebuah perguruan tinggi di Indonesia
ini sudah lama menyelenggarakan ilmu komunikasi. awalnya sebuah perguruan
tinggi menggunakan nama pendidikan ilmu komunikasi massa dan pendidikan ilmu
publistik. Akan tetapi pada tahun 1982 yang melalui keputusan presiden RI No.
107, nama ilmu komunikasi massa dan ilmu publistik itu diseragamkan menjadi
ilmu komunikasi. Yang dimana pada sejak tahun 1982 sampai sekarang inilah,
Indonesia hanyalah mengenal pendidikan ilmu komunikasi.
Kendati demikian, perguruan tinggi yang dalam
pengoprasionalisai pendidikan ilmu komunikasi itu berbeda-beda. Ada yang
menempatkannya dalam kelembagaan di bawah jurusan. Ada pula yang meletakkan di
bawah patung fakultas. Ketika pendidikan ilmu komunikasi berada di bawah jurusan,
nama fakultas yang menaunginya tidak selalu sama. Ada yang berada di bawah
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ada pula yang berada di bawah Fakultas
Psikologi dan Sosial Budaya, bahkan sebagian perguruan tinggi meletakkannya di
bawah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Dengan begitu, setiap
jurusan ilmu komunikasi punya kebebasan untuk menginduk ke fakultas mana pun.
B.
PEMBAHASAN
Pendidikan Komunikasi
Dimana, suatu pendidikan itu adalah suatu komunikasi
yang didalamnya mengandung sebuah arti kata, bahwa dalam proses tersebut
terjadi dua komponen yang saling berinteraksi, dimana seorang pengajar sebagai
komunikator dan seorang pelajar itu sendiri sebagai komunikan. Dan pada
dasarnya pendidikan komunikasi atau pendidikan ilmu komunikasai itu dibagi
menjadi dua orientasi yaitu, orientasi akademis dan orientasi operasi teknis.
Orientasi akademis itu mengarah pada suatu kemampuan intelektual seseorang,
sedangkan orientasi teknis itu mengarah pada pengembangan kempuan psikomotorik.
Lapangan
kerja mahasiswa yang menekuni orientasi akademis tentu saja berbeda dengan
mereka yang menekuni operasi teknis. Dimana, mereka yang menekuni orientasi
akademis biasanya bekerja sebagai peneliti, dosen maupun supervisor bidang
komunikasi. Sedangkan Mereka yang menekuni operas teknis biasanya bekerja
sebagai operator bidang komunikasi. Apapun pekerjaan mereka, tetap saja mereka
disebut sebagai
sarjana
ilmu komunikasi.
Akan tetapi, akhir-akhir ini seolah-olah pendidikan
ilmu komunikasi itu berorientasi akademis saja yang memerlukan teori dan
metodologi ilmu komunikasi. Pendidikan ilmu komunikasi yang berorientasi
operasi teknis tidak memerlukan kedua hal tersebut. Padahal keduanya juga
membutuhkan teori dan metodologi ilmu komunikasi.
Dalam hal ini, sesungguhnya perhatian jurusan atau
fakultas ilmu komunikasi dalam mengajarkan teori dan metodologi ilmu komunikasi
yang berorientasi operasi teknis. Dan Harus diakui bahwa perhatian mereka tidak
begitu besar. Ini bisa dilihat dari perbandingan mata kuliah yang berorientasi
akademis dan orientasi operasi teknis. Jumlah mata kuliah yang termasuk
orientasi operasi teknis jauh lebih sedikit dari mata kuliah yang termasuk orientasi
akademis. Tidak heran juga bila mahasiswa yang ingin memiliki orientasi operasi
teknis kurang didukung oleh mata kuliah-mata kuliah yang memadai. Masalahnya
adalah bagaimana mengoptimalkan pendidikan komunikasi Islam berorientasi teknis.
Konvergensi media
Berkat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi
lantas muncul istilah konvergensi. Berawal dari konvergensi jaringan, kemudian
tercipta konvergensi media. Untuk saat ini, konvergensi media bagi pengusaha
media merupakan sebuah keniscayaan. Jakob Oetama pernah mengatakan bahwa
kehadiran konvergensi tidak bisa ditunda:
“create
once, publish many”. Suratkabar mentransformasikan news room-nya untuk mengoptimalkan
kesempatan yang ditawarkan teknologi untuk memperkuat brand-nya, mengendalikan
biaya dan menarik pelanggan baru.
Seturut dengan tuntutan terjadinya konvergensi media
tersebut, maka news room lantas dipakai beramai-ramai, baik oleh mainstream
Pendidikan Komunikasi Islam di Tengah Konvergensi Media
C.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan
ilmu komunikasi di Indonesia memiliki dua orientasi, yakni orientasi akademis
dan operasi teknis. Kedua berorientasi pada teori dan metodologi ilmu
komunikasi. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa pengelola jurusan atau fakultas
ilmu komunikasi lebih memperhatikan
pendidikan ilmu komunikasi yang beorientasi akademis. Akibatnya, pendidikan
ilmu komunikasi yang berorientasi operasi teknis tidak memperoleh perhatian
yang memadai.Kesimpulan ini seharusnya menjad isyarat bagi jurusan komunikasi
Islam khususnya, dan ilmu komunikasi secara umum, untuk lebih memperhatikan
orientasi operasi teknis pendidikan ilmu komunikasi yang menawarkan peluang
besar bagi lapangan kerja sekaligus dakwah Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Jay David Bolter, Jay David &
Grusin, Richard. 2000, Remediation;
Understanding Media. Cambridge, MIT
Press, Massachusetts.
Oetama, Jakob. 2002, Kontribusi
Ilmu, Teknologi dan Praktisi
Komunikasi dalam Pengembangan
Pendidikan Komunikasi,
Makalah disampaikan pada
Seminar Temu Alumni Jurusan
Ilmu Komunikasi UGM, Yogyakarta 6
Juli.
Siregar, Ashadi. 2002, Pendidikan
Ilmu Komunikasi di Indonesia,
Makalah disampaikan pada Seminar
Temu Alumni Jurusan
Ilmu Komunikasi UGM, Yogyakarta 6
Juli